Showing posts with label Jalan-jalan di Semarang. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan di Semarang. Show all posts

Surga Para Pecinta Barang Antik di Indonesia

Melancong rasanya nggak lengkap kalo tidak pulang dan membawa sesuatu yang bisa mengingatkan kita setiap saat tentang suatu tempat yang pernah kita kunjungi. Beberapa travelers seperti kamu mungkin tidak terlalu berminat dengan suvenir yang dijual di toko oleh-oleh karena terlalu mainstream, alias pasaran, alias sudah terlalu banyak orang yang memilikinya. Mengumpulkan barang antik dari berbagai daerah saat ini juga mulai disukai oleh sebagian kawula muda. Semakin tua suatu barang dan semakin sulit didapatkan maka akan semakin tinggi pula nilai dan kepuasan untuk memilikinya.

Lalu dimana saja pasar loak atau pasar barang antik yang populer di Indonesia? Ini dia ulasannya.

1. Pasar Triwindu ( Pasar Windujenar ), Solo, Jawa Tengah

Pasar Triwindu atau yang sekarang dikenal dengan nama Pasar Windujenar ibarat surga yang penuh harta karun buat mereka yang gemar mengkoleksi barang antik. Kalau kamu berjalan menyusuri lorong-lorong di pasar ini kamu abisa temukan aneka macam koleksi koin kuno, kain batik, lukisan, patung, lampu-lampu minyak, keris, beberapa perangkat elektronik jadul seperti gramafon, radio, mesin jahit dan ada juga setrika arang. Beberapa kios ada juga yang menawarkan fosil prasejarah dari Sangiran dan beberapa senjata kuno yang diklaim merupakan milik keluarga kerajaan Surakarta. Meski keasliannya masih diragukan, tapi ada keasyikan tersendiri ketika kita berjalan mengelilingi pasar dambil menikmati atmosfer khas Kota Solo.

Tidak semua barang yang dijual di pasar barang antik adalah barang kuno. Bisa saja barang itu merupakan replika dari perangkat serupa yang dibuat beberapa bulan lalu. Jadi kamu yang nggak punya pengalaman dalam hal barang antik sebaiknya waspada jika ingin membeli suatu barang. Jangan ragu untuk menawar hingga separuh harga jika barang yang kamu sukai ditawarkan dengan harga kelewat mahal. Uniknya, di Pasar Triwindu masih berlaku sistem barter, travelers. Kamu bisa menukar barang antik yang kamu punya dengan barang yang ditawarkan penjual, asal barang milikmu benar-benar menarik dan harganya sepadan dengan barang yang kamu inginkan.

Penginapan MURAH di Solo >> disini


2. Pasar Cimol Gedebage, Bandung

Pasar Cimol Gedebage yang terletak di Jalan Sukarno Hatta, Bandung secara sekilas memang tak tampak seperti pasar barang antik karena hampir sebagian besar pedagang di sana menjual pakaian. Tapi coba masuk ke dalam dan amatilah pakaian-pakaian yang ditawarkan. Ya, Pasar Cimol Gedebage menjual pakaian-pakaian impor bekas, mulai dari gaun pesta, tas, sepatu, jaket kulit, celana, jas, rompi, kaos dan pakaian anak-anak, semuanya ada. Asyiknya lagi, sebagian besar dari pakaian second ini branded, travelers, alias keluaran merek pakaian terkenal.

Kalo masalah harga, jangan khawatir, travelers. Pasar ini adalah tempat buat kamu yang ingin tetap tampil gaya meski dengan biaya seadanya. Satu potong baju atau celana bisa kamu dapatkan dengan harga sebesar Rp 20 ribu. Murah banget kan? Coba datang di hari Sabtu atau Minggu kalo kamu ingin bisa memiliki baju dengan harga lebih murah lagi, bahkan bisa sampai separuh dari harga aslinya. Tapi jangan lupa untuk selalu teliti sebelum membeli ya, travelers.

Penginapan MURAH di Bandung >> disini


3. Pasar Antik Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Selatan
Sesuai dengan namanya, pasar yang telah dibuka dan diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin di tahun 1974 terletak di Jalan Surabaya, Menteng, Jaksel dan dekat dengan Stasiun Cikini. Pasar Antik Jalan Surabaya awalnya hanya diisi segelintir pedagang yang menjual barang bekas rumah tangga seperti perkakas dapur, gerabah, radio dan banyak lagi. Beberapa tahun kemudian jumlah pedagang makin banyak dan mereka menyulap kios menjadi bangunan semi permanen seperti yang bisa kita lihat sekarang. Jenis barang yang ditawarkan pun makin beragam. Perangkat gramapon bisa kamu temui di sini, lengkap dengan vinyl/ piringan hitam dari para musisi jaman nenek moyang. Selain itu, kamu juga bisa temukan guci, telepon putar, safety box, jam dinding kuno, lampu kristal, barang-barang yang terbuat dari perunggu, aneka jenis koper, dan masih banyak lagi.

Seperti Pasar Triwindu di Solo, Pasar Antik Jalan Surabaya juga sering dikunjungi para wisatawan mancanegara dari Belanda, Jepang, Inggris, Austria dan Singapura. Mantan Presiden AS, Bill Clinton, bahkan menyempatkan diri berkunjung ke pasar ini dalam kunjungannya ke Indonesia di tahun 1994.

Penginapan MURAH di Jakarta >> disini


4. Pasar Klithikan, Yogyakarta

Istilah klithikan dalam bahasa Indonesia artinya kegiatan berburu barang, baik baru maupun bekas. Istilah ini kemudian digunakan sebagai nama pasar loak yang terletak di Jalan Mangkubumi, Jogjakarta. Pasar ini melakukan kegiatan jual beli di malam hari dan menawarkan aneka macam barang seperti yang ditawarkan pasar loak pada umumnya. Salah satu kontributor Pegipegi yang pernah tinggal di Yogyakarta bahkan pernah menemukan kaca spion dan tutup tangki bensin sepeda motor di pasar ini. Menurut pengakuannya, rekan-rekan kuliahnya juga biasa mencari peralatan pertukangan, onderdil motor dan mobil kuno, hingga mur baut dengan ukuran tertentu yang jarang ditemukan di toko.


Pemerintah setempat kemudian memindahkan Pasar Klithikan ke Jalan HOS Cokroaminoto Jogjakarta dengan alasan aktifitas jual beli terlalu ramai sehingga bisa menyebabkan kemacetan lalu lintas. Kepindahan Pasar Klitihikan ke lokasi baru cukup menguntungkan untuk para pembeli karena mereka bisa lebih mudah mencari barang yang mereka inginkan dalam satu lokasi, dan jumlah penjual juga makin banyak sehingga menambah lapangan pekerjaan.

Sumber : Pegipegi

Tiket pesawat online?? 



Keindahan Wisata Alam di Jepara, Jawa Tengah

Selama ini Jepara hanya terdengar namanya menjelang peringatan Hari Kartini tanggal 21 April, karena di kota inilah sang pahlawan pergerakan perempuan pertama di Indonesia itu dilahirkan. Ada juga yang mendengar nama Jepara berkat hasil kerajinan ukir kayunya yang sangat indah, penuh dengan detil di setiap bagian dan diciptakan melalui proses yang panjang. Sedangkan sebagian traveler menganggap kota di Jawa Tengah ini hanya sebagai tempat transit sebelum menyeberang ke Kepulauan Karimunjawa.

Faktanya, ibukota kabupaten di wilayah Pantura ini menyimpan beragam pesona yang membuatnya layak dipertimbangkan sebagai kota wisata selain Solo, Semarang, Magelang dan Wonosobo. Jepara kaya akan pantai berpasir putih, pulau-pulau kecil yang masih perawan dan air terjun memesona. Terus, gimana dong cara mengunjungi tempat-tempat cantik ini? Simak terus ya, travelers.

Air Terjun Songgolangit
Air terjun yang dalam Bahasa Indonesia artinya Penyangga Langit ini termasuk dalam wilayah Dukuh Nglencer, Kecamatan Kembang 30 km di sebelah utara Kota Jepara. Kamu bisa datang ke sini dengan naik bus jurusan Pati, lalu turun di simpang tiga Desa Cepogo. Dari sini kamu bisa lanjutkan perjalanan naik ojek untuk menuju Air Terjun Songgolangit. Tiket masuk ke air terjun sangat terjangkau, cuma Rp 1500 per orang di hari biasa dan Rp 2000 per orang di hari Minggu atau hari libur. Malah lebih mahal ongkos ojeknya yang berkisar antara Rp 20 ribu-Rp 25 ribu sekali jalan.

AirTerjun Songgolangit memiliki ketinggian sekitar 80 meter dan lebar sekitar 2 meter. Kalo lagi beruntung, kamu bisa melihat aneka jenis kupu-kupu beterbangan di sekitar air terjun ini. Waktu terbaik untuk datang ke obyek wisata alam andalan Kabupaten Jepara ini adalah di musim penghujan, saat debit air sedang banyak dan air terjun menampakkan kecantikan sesungguhnya. Meski tampak indah dan menggoda, para pengunjung tidak diperbolehkan berenang atau main air karena ada palung sedalam 8 meter persis di bawah air terjun. Jangan coba-coba melanggar ya travelers, soalnya udah cukup banyak wisatawan yang tewas tenggelam akibat mengabaikan larangan itu.

Pantai Kartini


Kamu yang udah pernah pergi ke Kepulauan Karimunjawa pasti nggak asing dengan Pantai Kartini. Pantai ini memang dikenal sebagai jalur utama transportasi laut ke Kepulauan Karimunjawa dan Pulau Panjang, travelers. Tapi, Pantai Kartini pun punya daya tarik tesendiri, jadi sayang rasanya kalo hanya melewatinya dalam perjalanan kamu ke Kepulauan Karimunjawa. Pantai Kartini berjarak sekitar 2,5 km dari Pendopo Kabupaten Jepara, nggak jauh dari pusat kota.

Di sini kamu bakal bisa nikmati yang namanya pantai berpasir putih, angin sepoi-sepoi dengan aroma khas laut dan sunset yang nggak terlupakan. Ombak Pantai Kartini nggak ganas seperti pantai Laut Selatan, jadi kamu nggak perlu khawatir kalo mau berenang di sini, travelers. Kamu nggak bakalan bosan kalo main kemari karena Pantai Kartini udah dilengkapi beberapa wahana permainan, kebun binatang dan ada akuarium Kura-kura Ocean Park juga lho. Pemandian yang terletak di bagian barat Pantai Kartini dipercaya bisa menyembuhkan aneka macam penyakit. Jadi kalo kamu punya penyakit rematik atau gatal-gatal, coba deh mandi berendam di sini.

Pulau Mandalika
Pulau kecil ini bisa dilihat dengan jelas dari Desa Ujung Watu karena letaknya hanya 2 km dari bibir pantai. Kamu bisa melihat Pulau Mandalika saat menyeberang ke Kepulauan Karimunjawa dari Jepara, atau dengan berdiri di atas puing-puing Benteng Portugis yang ada di tepi pantai Desa Banyumanis. Pulau ini hanya dihuni beberapa staf yang bekerja menjaga mercusuar sebagai tanda batas daratan untuk kapal berukuran besar, selebihnya adalah hamparan hutan belantara yang belum terjamah tangan manusia.

Kamu yang gemar mancing pasti betah berlama-lama di pulau ini, karena perairan di sekitar Pulau Mandalika sangat kaya dengan berbagai jenis ikan laut yang jarang ditemui seperti ikan kerapu, pari, sembilang dan kakap putih. Di sini kamu juga bisa melihat tanaman endemik Pulau Mandalika yang namanya Nongko Celeng. Tanaman ini unik karena buahnya tumbuh dari dalam tanah, tepat di bagian akar.

Pantai Bandengan


Panorama dan suasana damai di pantai ini tak kalah indah dan menenangkan jika dibandingkan Pantai Kuta Bali atau Pantai Parangtritis Yogyakarta. Kamu bisa mendatangi pantai berpasir putih ini dengan berkendara sejauh 7 km dari pusat Kota Jepara. Laut yang tenang, udara yang sejuk, plus nyiur melambai mungkin menjadi alasan buat RA Kartini sering mengunjungi Pantai Bandengan di masa kecilnya, bersama kedua adik dan Nyonya Ovink Soer, sahabat RA Kartini yang berkebangsaan Belanda.

Saat ini pemerintah setempat telah melengkapi Pantai Bandengan dengan fasilitas jetski, banana boat, flying fish dan kano agar wisatawan makin betah jalan-jalan di sini. Ada juga fasilitas penginapan yang bisa kamu sewa untuk bermalam supaya bisa menikmati sunset dan sunrise keesokan harinya.

Sumber: Pegipegi


Tertarik datang ke Jepara musim liburan mendatang?

Booking tiket pesawat online ke Jepara >>> disini


Cari Penginapan di Jepara ??




Wisata Rohani Vihara Buddhagaya Watugong Semarang

Watugong adalah nama sebuah kawasan di tepi Selatan Kota Semarang. Namanya seunik ikon kawasan ini, yaitu sebuah batu berbentuk gong. Itulah sebabnya masyarakat setempat saat membina jalan raya di kawasan ini menyebutnya “watugong” atau batu seperti gong.

Vihara ini sempat terlantar selama kurang lebih 8 tahun namun sekarang bangkit kembali di bawah binaan Sangha Theravada Indonesia. Keindahan me
nara vihara ditambah keunikan ornamen dan eksterior bangunannya telah menarik banyak para pelancong maupun peziarah untuk mendatanginya.
Rencananya di vihara ini nantinya akan dibangun Buddha rupang setinggi 36 meter yang terbuat dari perunggu.

Ketenaran nama Watugong tidak hanya terbatas di sebuah batu yang sekarang masih ada dan dilindungi. Watugong selalunya dikaitkan dengan nama vihara Avalokitesvara di kawasan Vihara Buddhagaya yang berdiri tak jauh dari bukti fisik Watugong. Vihara ini tinggi menjulang 7 tingkat  dan diresmikan tahun 2006. Seorang donatur pengikut Buddha bernama Po Sun Kok memprakarsai pembangunan vihara setinggi 45 meter ini dari yang asalnya sebuah vihara kecil.

Museum MURI menetapkan vihara ini sebagai vihara tertinggi di Indonesia.
Istimewanya, beberapa bahan vihara sengaja didatangkan dari Cina, seperti railing tangga batu, tiang batu yang berjumlah dua dengan ukiran menawan, serta genting pun diimport dari Cina. Sisanya didatangkan dari sumber tempatan. Tahun 1955 YM Bhante Narada dan Bhante Ashin meresmikan vihara ini.

Bangunan vihara ini berbentuk segi delapan dengan tingkat 2 hingga 6 menampilkan patung Dewi Kwan Im, dewi welas asih, yang dipuja di vihara ini. Hanya saja di vihara ini tidak terdapat anak tangga untuk menuju ke puncak vihara.

Dewi Kwan Im ditempatkan menghadap 4 penjuru mata angin guna memancarkan kasih sayangnya ke segala sudut arah mata angin. Dimaksudkan, agar Dewi yang selalu menebarkan cinta kasih tersebut bisa menjaga Kota Semarang dari segala arah. Selain itu sedikitnya ada 20 patung Kwan Im dipasang di sini.

Vihara Buddhagaya Watugong merupakan vihara pertama di Indonesia setelah keruntuhan kerajaan Majapahit.

Di tingkat teratas, patung Amitaba, guru besar para dewa dan manusia ditempatkan sebagai simbol bahwa ditingkat ke-7, kesucian tercapai. Di puncak vihara terdapat stupa yang menyimpan butir-butir mutiara yang keluar dari Sang Buddha.

Bangunan lainnya yang tak kalah penting ialah Gedung Vihara Avalokitesvara atau Dharmasala. Ruangan besar dengan patung Buddha di dalamnya yang digunakan untuk memaparkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai Dharma. Tempat ini sudah berdiri sejak 1955 dan nilai pentingnya ialah bahwa disinilah pertama kali semua persatuan Buddhisme dihimpunkan.

Seorang biksu bernama Naradha dari Srilanka datang tahun 1955 ke tempat ini membawa dua bibit pohon Bodhi dimana Buddha mendapatkan pencerahan saat duduk di bawahnya. Pohon tersebut ditanam di Watugong dekat vihara dan tumbuh subur. Di bawah pohon ini, akan didapatkan patung Buddha duduk dalam posisi mudra. Satu pohon lagi ditanam di dekat Candi Borobudur tetapi sudah hilangkan karena dianggap merusak bangunan candi.

Salah satu peninggalan vihara tua di Watugong ialah patung Buddha tidur di bawah pohon Sala. Sejarah mencatat bahwa Sang Buddha dilahirkan di bawah pohon Sala, dan begitu pun saat meninggalnya, Buddha menghembuskan nafas terakhir di antara dua pohon Sala. Pohon ini harum bunganya menyebar sesaat berada di dekatnya.  Selain itu, dikenal juga dari buahnya yang jatuh ke tanah dan terbelah akan mengeluarkan bau tak sedap. Nampak ada nilai filosofi yang terkandung dari pohon ini.

Lingkungan sekitar vihara ditata apik dan asri dengan banyaknya pepohonan ditanam sehingga membuat suasana rindang untuk Anda beristirahat atau bersantai.

Tips
Vihara Watugong terletak di jalur Jalan Raya Ungaran. Bila datang pada Minggu sore, tempat parkir akan sedikit penuh karena jemaah Buddha datang untuk kebaktian. Momen ini bisa menjadi sangat menarik untuk diamati, terutama melihat tradisi dari Tiongkok di vihara.

Sepulangnya dari vihara di Watugong, mampirlah sejenak di Nissin Cafe yang terletak tak jauh dari lokasi Watugong. Nissin termahsyur sebagai produsen kue kering dalam kemasan yang sudah puluhan tahun menemani masyarakat di negeri ini untuk menerima tamu di setiap rumah. Nikmati ruangan cafe yang nyaman dan tentunya kue-kue yang disediakan dengan cita rasa tradisi dan kenyamanan berbelanja di toko kuenya.

Apabila Anda masih berkeinginan melihat bentuk vihara lain di Jawa Tengah maka kunjungi juga Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong. Lokasinya tidak jauh dari lokasi Vihara Kwan Im, yaitu di Jalan Jogja-Solo 2 KM setelah Polres Semarang, Ungaran. Perhatikan tepat di sebelah kanan jalan terdapat papan nama bertuliskan Vihara Avalokitesvara Sri Kukusrejo Gunung Kalong.
Transportasi

Vihara di Watugong dapat ditempuh dengan kendaraan dari Semarang ke arah Solo dengan melalui jalan yang cukup padat dilalui kendaraan ke luar kota  yang disebut Jalan Raya Ungaran. Melalui jalan tol, tempat ini dapat ditempuh selama 30 menit.

Sumber : Indonesia Travel

Cari Penginapan MURAH di Semarang ??



Lawang Sewu Semarang

Sejarah gedung ini tak lepas dari sejarah perkeretaapian di indonesia karena dibangun sebagai Het Hoofdkantoor Van de Nederlandsch – Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) yaitu kantor pusat NIS, perusahaan kereta api swasta di masa pemerintahan Hindia belanda yang pertama kali membangun jalur kereta api di Indonesia menghubungkan Semarang dengan “Vorstenlanden” (Surakarta dan Yogyakarta) dengan jalur pertamanya Jalur Semarang Temanggung 1867.

Awalnya administrasi NIS diselenggarakan di Stasiun Semarang NIS. Pertumbuhan jaringan yang pesat diikuti bertambahnya kebutuhan ruang kerja sehingga diputuskan membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh pada lahan di pinggir kota dekat kediaman Residen Hindia Belanda, di ujung selatan Bodjongweg Semarang. Direksi NOS menyerahkan perencanaan gedung ini kepada Prof Jacob F Klinkhamer dan B.J Ouendag, arsitek dari Amsterdam Belanda.

Pelaksanaan pambangunan dimulai 27 Februari 1904 dan selesai 1907. Kondisi tanah di jalan harus mengalami perbaikan terlebih dahulu dengan penggalian sedalam 4 meter dan diganti dengan lapisan vulkanis. Bangunan pertama yang dikerjakan adalah rumah penjaga dan bangunan percetakan, dilanjutkan dengan bangunan utama. Setelah dipergunakan beberapa tahun, perluasan kantor dilaksanakan dengan membuat bangunan tambahan pada tahun 1916 – 1918.

Pada tahun 1873 rel kereta api pertama di Hindia Belanda selesai dibangun. Jalan itu dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg maatschappij (NIS), suatu perusahaan swasta yang mendapat konsesi dari pemerintah kolonial untuk menghubungkan daerah pertanian yang subur di Jawa Tengah dengan kota pelabuhan Semarang (Durrant, 1972). Stasiun di Semarang yang berada di tambaksari tidak jauh dari pelabuhan.

Pada peralihan abad ke-20 NIS membangun stasiun stasiun baru yang besar. Pada tahun 1914 stasiun Tambaksari digantikan oleh Stasiun Tawang. Sebelumnya pada tahun 1908 selesai dibangun pula kantor pusat NIS yang baru, bangunan itu berada di ujung jalan Bodjong, di Wilhelmina Plein berseberangan dengan kediaman gubernur.

Kantor pusat NIS yang baru itu adalah bangunan besar 2 lantai berbentuk “L” yang dirancang oleh J.F Klinkhamer dan Ouendag dalam gaya Renaissance Revival (Sudrajat,1991). Menurut Sudrajat pembangunan kantor pusat NIS di Semarang adalah tipikal 2 dasawarsa awal abad 20 ketika diperkenalkan politik etis, ketika itu “… Muncul kebutuhan yang cukup besar untuk mendirikan bangunan bangunan publik dan perumahan, akibat perluasan daerah jajahan, desentralisasi administrasi kolonial dan pertumbuhan usaha swasta”.

Penduduk Semarang memberinya nama “Lawang Sewu” (pintu seribu), mengacu pada pintu pintunya yang sangat banyak, yang merupakan usaha para arsiteknya untuk membangun gedung kantor modern yang sesuai dengan iklim tropis Semarang. Semua bahan bangunan didatangkan dari Eropa kecuali batu bata, batu alam dan kayu jati.

Pada saat yang bersamaan Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) berusaha mengambil alih kereta api, pertempuran pecah antara pemuda dan tentara Jepang, belasan pemuda terbunuh di gedung ini, 5 diantara mereka dimakamkan di halaman (tetapi pada tahun 1975 jenazah mereka dipindah ke Taman Makam Pahlawan). Di depan Lawang Sewu berdiri monumen untuk memperingati mereka yang gugur di Pertempuran Lima Hari.

Sesaat setelah kemerdekaan Lawang Sewu digunakan Kantor Perusahaan Kereta Api, kemudian militer mengambil alih gedung ini, tetapi sekarang telah kembali ke tangan PT KAI.
Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu.

Bangunan utama Lawang Sewu berupa tiga lantai bangunan yang memiliki dua sayap membentang ke bagian kanan dan kiri bagian. Jika pengunjung memasukkan bangunan utama, mereka akan menemukan tangga besar ke lantai dua. Di antara tangga ada kaca besar menunjukkan gambar dua wanita muda Belanda yang terbuat dari gelas. Semua struktur bangunan, pintu dan jendela mengadaptasi gaya arsitektur Belanda. Dengan segala keeksotisan dan keindahannya Lawang Sewu ini merupakan salah satu tempat yang indah untuk Pre Wedding.

Setelah cukup lama lawang sewu seperti tak terurus, akhirnya Lawang Sewu dilakukan pemugaran yang memakan waktu cukup lama, akhirnya selesai pada akhir Juni 2011 dan kembali dibuka untuk umum setelah pada tanggal 5 Juli 2011 diresmikan oleh Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono dan dilanjutkan dengan event Pameran Kriya Unggulan Nusantara yang menampilkan produk produk tradisional dari seluruh Nusantara.

Berapakan sebenarnya jumlah pintu dari Lawang Sewu?

Seperti Kepulauan Seribu yang jumlah pulau yang sebenarnya tak sampai 1.000, karena tercatat hanya 342 buah bulau saja. Sebutan “Sewu” [Jawa: Seribu], merupakan penggambaran sedemikian banyaknya jumlah pintunya. Menurut guide lawang sewu, jumlah lubang pintunya terhitung sebanyak 429 buah, dengan daun pintu lebih dari 1.200 (sebagian pintu dengan 2 daun pintu, dan sebagian dengan menggunakan 4 daun pintu, yang terdiri dari 2 daun pintu jenis ayun [dengan engsel], ditambah 2 daun pintu lagi jenis sliding door/pintu geser).

Buka dari jam Jam buka 07.00 samapi 21.00 WIB , untuk masuk ke kawasan Gedung Lawang Sewu , kita harus membayar tiket:

Tiket dewasa : Rp. 10.000
Anak-anak : Rp. 5.000
Pelajar : Rp. 5.000



Cari Penginapan MURAH di Semarang ??



Pantai Maron

Nama Maron sendiri konon karena pantai ini masih merupakan milik Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad), karena merah maron merupakan warna khas baret Penerbad, maka pantai ini disebut Pantai Maron.

Pasir di Pantai Maron memang tidak putih. Agak hitam keabu-abuan. Tapi, tidak masalah, bukan berarti pantai ini sudah tercemar, karena warna alami pasir di Maron memang demikian, dan di banding pantai lain di Semarang, Maron termasuk yang paling bagus.

Pantai ini terlihat lebih bersih daripada Pantai Marina. Mungkin karena belum ada pembangunan dan pengembanagan di sini. Setiap akhir minggu atau hari libur, pantai ini cukup ramai dikunjungi masyarakat.

Jalan untuk menuju pantai ini agak tidak bersahabat. Jalanan masih berupa tanah padas keras berwarna putih yang jika turun hujan berubah menjadi jalanan yang becek dan licin. Walaupun begitu, selama perjalanan menuju pantai kita akan disuguhi pemandangan langit semarang yang biru dan jernih.

Ada lagi keindahan lain yang ditawarkan pantai ini. Meski Maron tidak langsung menghadap ke barat, namun wisatawan bisa menikmati indahnya sunset yang muncul di sisi barat laut. Kalau mujur, kita bisa mendapat matahari yang lembut mulai menuruni lautan yang bergerak tenang..
Pelancong masih bisa beraktivitas rekreatif seperti berkejar-kejaran, membuat rumah dari pasir pantai; serta tentu saja berenang di pantai dengan siulet sinar matahari yang mulai merekah di arah barat, atau menyaksikannya turun kedasar laut ketika senja mulai menyapa.

Selain berenang, pengunjung pun bisa menikmati ombak yang menderu lembut sambil duduk, dengan siraman angina sepoi-sepoi yang asyik, seraya menikmati makanan yang banyak dijual disekitar pantai.


Pantai Maron menawarkan suasana murah meriah. Untuk sekedar melepas penat dan menikmati aneka sajian di warung-warung sekitar Pantai Maron. Anda bisa menikmati sate ayam, bakso, mie rebus, dan lain-lain.

Cari Penginapan MURAH di Semarang ??