Showing posts with label Jalan-jalan di Bandung. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan di Bandung. Show all posts

GH Universal Hotel Bandung

GH Universal Hotel adalah hotel bintang 5 yang terletak di Bandung Utara berjarak 40 menit dari Bandara Husein Sastranegara dengan kamar yang elegan dilengkapi dengan jendela-jendela dari lantai-ke-langit-langit, pembuat kopi dan teh, kabel TV layar datar. Wi-Fi dan kamar mandi pribadi.

Hotel ini memiliki kolam renang, pusat kebugaran, atau menikmati pijat relaksasi di spa. GH Universal menyediakan layanan antar-jemput bandara. Layanan Penjagaan Anak-anak juga tersedia atas permintaan.
Terletak di utara kota Bandung, dekat dengan pusat pariwisata, GH Universal Hotel menghadirkan kemewahan dan kenyamanan ala Eropa dikelilingi nuansa keindahan alam Bandung. Gaya desain arsitektur Renaissance Italia terlihat unik dan berbeda dibanding hotel-hotel lain di Bandung, di mana garis dan lekuk bangunannya menjadi ciri khas GH Universal. Tiap detil dari bagian depan gedungnya diukir secara indah dan cermat dengan tangan. Bentuk klasik bangunan Eropa pada GH Universal Hotel semakin kuat dengan keberadaan enam kubah pada bagian atapnya. Salah satunya adalah Chapel of the Angels dengan pemandangan ke semua arah pengunungan dan kota yang menakjubkan.


Chapel of The Angels yang juga berada di Roof Top, selain sempurna untuk acara pemberkatan, juga menghadirkan sensasi romantis tak terlupakan untuk romantic dinner, sambil menikmati pemandangan kota Bandung dengan sudut pandang 360 derajat. Lengkap dengan pelayanan personal butler, personal waiter, music chamber, flower, champagne, dan red wine.

Tak hanya bentuk bangunan luar, nuansa kebangsawanan Eropa merasuk hingga ke dalam bangunan. Ke-105 kamarnya menghadirkan nuansa kemewahan dan menyuguhkan pemandangan indah ala kamar-kamar di Eropa. Sebagian kamar tersebut memiliki pemandangan kota Bandung dan pegunungan, sebagian lagi menghadap ke kolam renang Courtyard of The Royale. Kesan yang mendalam dari tiap kamar di Hotel GH Universal menjadi awal sempurna sambil menikmati keindahan dan aktivitas di Bandung.

GH Universal Hotel menyediakan berbagai jenis kamar, mulai dari Superior Room, Deluxe King, Deluxe double queen, Princess Suite, Honeymoon Suite, Governor Suite, Queen Suite hingga King Suite yang menawarkan kemewahan dalam kamar berukuran 125 meter persegi. Untuk pengalaman bermalam yang tak terlupakan, Presidential Suite menghadirkan pemandangan panorama kota Bandung dengan sudut pandang 180 derajat. Dalam kamar seluas 250 meter persegi ini, terdapat dua ranjang (king dan queen size), ruang makan terpisah, ruang tengah dengan bar pribadi, dan tiga kamar mandi dalam bentuk Jacuzzi, bathtub ukuran besar serta shower.

Pada area lain, dua restoran dengan suasana khas siap memanjakan lidah para tamu. Fat Dragon Chinese Restaurant diperuntukkan bagi mereka yang ingin berpetualang cita rasa kuliner otentik Kanton seperti berbagai macam Bubur, Dim Sum serta menu a la carte lengkap. Bagi yang ingin menikmati hidangan lezat dalam suasana spektakuler, Belle Vue 24 Hours French Italian Bistro

adalah pilihan sempurna karena berada di Roof Top di lantai 5 dengan pemandangan panoramik 360 derajat kota Bandungmenyajikan berbagai sajian khas Perancis dan Italia dengan a la carte menu. Bisa dikatakan, French and Italian Bistro di GH Universal Hotel merupakan bistro pertama di Kota Bandung yang membuka layanan hingga 24 jam.

Belle Vue menyuguhkan pemandangan cantik Kota Bandung dengan sudut 360 derajat & hawa udara yang sejuk, saat menginjakkan kaki di bistro ini, tamu yang berkunjung akan ditawarkan dengan berbagai macam menu appetizer, main course, dessert ala French & Italian. Dengan hidangan utama andalannya yaitu Poulet au Champagne, Jack Daniel Ribs, Escargots vol au vent yang hanya dapat dinikmati di Belle Vue 24 Hours French & Italian Bistro. Bagi para penggemar dessert, wajib mencicipi Banana & Blueberry Strudle, Crème Brulee, Tiramisu Cake.

Selain makanan istimewa yang ada, Belle Vue Bistro menawarkan beberapa macam minuman istiwewa yang beberapa diantaranya hanya dimiliki oleh GH.Universal Hotel di Bandung ini. Minuman istiwema itu adalah 30 Macam Beer Montessori Belgia, ini adalah salah satu beer yang ada di Biara Belgia dan beer umum lainnya tidak kalah banyak variasinya.

Sebagai hotel bintang lima, GH Universal juga memiliki fasilitas lengkap bagi Anda untuk mengisi liburan maupun keperluan bisnis. Mulai dari kolam renang, gymnasium, spa, fasilitas bermain untuk bayi dan anak-anak, business center, area internet hot spot dan lahan parkir yang luas. Tak hanya untuk melepas lelah saat wisata ke kota kembang itu, GH Universal juga memiliki 9 venue untuk keperluan meeting dengan kapasitas terbesar mampu untuk menampung 700 orang dengan set up classroom.

Adapun untuk menggelar pesta pernikahan, GH Universal Hotel Bandung memiliki sebuah chapel yang bernama chapel of the angels yang mampu menampung sampai dengan 75 orang untuk keperluan pemberkatan. Sedangkan untuk menggelar resepsi pernikahannya sendiri, GH Universal Hotel Bandung memiliki beberapa venue andalan seperti Ballroom yang bernama Hall of Lights yang mampu menampung tamu sebanyak 1000 orang untuk type pernikahan semi standing yang mana makanan akan disajikan dengan konsep buffet atau prasmanan, juga bisa untuk menampung 400 orang untuk type pernikahan round tables yang lebih terkenal dengan istilah cia ciu yang mana makanan yang disajikan adalah chinesse food dan dalam setiap meja diperuntukkan bagi 10 orang sehingga type pernikahan ini adalah type pernikahan yang menyajikan kehangatan bagi setiap tamunya. selain itu Hall of Lights juga bisa menampung sampai 400 orang untuk type pernikahan long table yang mana makanan yang disajikan adalah western food dengan konsep fine dining.

Bagi calon pengantin yang ingin merasakan pengalaman pernikahan yang berbeda, masih ada beberapa tempat andalan lain yang bisa dijadikan venue resepsi pernikahan. GH Universal Hotel Bandung memiliki Courtyard of the royale alias poolside, yang mana resepsi pernikahan tersebut digelar disekitar area kolam renang yang cantik nan megah. Untuk venue poolside tersebut mampu menampung total tamu sebanyak 600 orang untuk type pernikahan semi standing, 300 orang untuk type pernikahan round tables dan juga 250 orang untuk type pernikahan long tables.

Satu venue lain yang tidak kalah menarik adalah area Rooftop yang terletak di lantai 5 GH Universal Hotel Bandung. Area ini juga mencakup 1 ruang meeting yang bernama milano, kemudian rooftop yang berbentuk lorong cantik yang berdesain elegan yang biasa dijadikan tempat untuk sarapan bagi semua tamu yang menginap di GH Universal Hotel Bandung, dan juga area Belle Vue yang merupakan Cafe yang menyajikan pemandangan kota Bandung yang sangat sepktakuler. Seluruh teampat tersebut yang bertemapat di lantai 5 GH Universal Hotel Bandung bisa dijadikan sebagai Venue pernikahan dengan kapasitas total sebanyak 600 orang dengan konsep pernikahan semi standing.

Selain untuk pernikahan, seluruh area tersebut juga bisa dijadikan sebagai venue untuk mengadakan pesta ulang tahun, gathering, arisan, dan bahkan untuk pesta prom night dan juga graduation.

klik untuk pesan


Surga Para Pecinta Barang Antik di Indonesia

Melancong rasanya nggak lengkap kalo tidak pulang dan membawa sesuatu yang bisa mengingatkan kita setiap saat tentang suatu tempat yang pernah kita kunjungi. Beberapa travelers seperti kamu mungkin tidak terlalu berminat dengan suvenir yang dijual di toko oleh-oleh karena terlalu mainstream, alias pasaran, alias sudah terlalu banyak orang yang memilikinya. Mengumpulkan barang antik dari berbagai daerah saat ini juga mulai disukai oleh sebagian kawula muda. Semakin tua suatu barang dan semakin sulit didapatkan maka akan semakin tinggi pula nilai dan kepuasan untuk memilikinya.

Lalu dimana saja pasar loak atau pasar barang antik yang populer di Indonesia? Ini dia ulasannya.

1. Pasar Triwindu ( Pasar Windujenar ), Solo, Jawa Tengah

Pasar Triwindu atau yang sekarang dikenal dengan nama Pasar Windujenar ibarat surga yang penuh harta karun buat mereka yang gemar mengkoleksi barang antik. Kalau kamu berjalan menyusuri lorong-lorong di pasar ini kamu abisa temukan aneka macam koleksi koin kuno, kain batik, lukisan, patung, lampu-lampu minyak, keris, beberapa perangkat elektronik jadul seperti gramafon, radio, mesin jahit dan ada juga setrika arang. Beberapa kios ada juga yang menawarkan fosil prasejarah dari Sangiran dan beberapa senjata kuno yang diklaim merupakan milik keluarga kerajaan Surakarta. Meski keasliannya masih diragukan, tapi ada keasyikan tersendiri ketika kita berjalan mengelilingi pasar dambil menikmati atmosfer khas Kota Solo.

Tidak semua barang yang dijual di pasar barang antik adalah barang kuno. Bisa saja barang itu merupakan replika dari perangkat serupa yang dibuat beberapa bulan lalu. Jadi kamu yang nggak punya pengalaman dalam hal barang antik sebaiknya waspada jika ingin membeli suatu barang. Jangan ragu untuk menawar hingga separuh harga jika barang yang kamu sukai ditawarkan dengan harga kelewat mahal. Uniknya, di Pasar Triwindu masih berlaku sistem barter, travelers. Kamu bisa menukar barang antik yang kamu punya dengan barang yang ditawarkan penjual, asal barang milikmu benar-benar menarik dan harganya sepadan dengan barang yang kamu inginkan.

Penginapan MURAH di Solo >> disini


2. Pasar Cimol Gedebage, Bandung

Pasar Cimol Gedebage yang terletak di Jalan Sukarno Hatta, Bandung secara sekilas memang tak tampak seperti pasar barang antik karena hampir sebagian besar pedagang di sana menjual pakaian. Tapi coba masuk ke dalam dan amatilah pakaian-pakaian yang ditawarkan. Ya, Pasar Cimol Gedebage menjual pakaian-pakaian impor bekas, mulai dari gaun pesta, tas, sepatu, jaket kulit, celana, jas, rompi, kaos dan pakaian anak-anak, semuanya ada. Asyiknya lagi, sebagian besar dari pakaian second ini branded, travelers, alias keluaran merek pakaian terkenal.

Kalo masalah harga, jangan khawatir, travelers. Pasar ini adalah tempat buat kamu yang ingin tetap tampil gaya meski dengan biaya seadanya. Satu potong baju atau celana bisa kamu dapatkan dengan harga sebesar Rp 20 ribu. Murah banget kan? Coba datang di hari Sabtu atau Minggu kalo kamu ingin bisa memiliki baju dengan harga lebih murah lagi, bahkan bisa sampai separuh dari harga aslinya. Tapi jangan lupa untuk selalu teliti sebelum membeli ya, travelers.

Penginapan MURAH di Bandung >> disini


3. Pasar Antik Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Selatan
Sesuai dengan namanya, pasar yang telah dibuka dan diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin di tahun 1974 terletak di Jalan Surabaya, Menteng, Jaksel dan dekat dengan Stasiun Cikini. Pasar Antik Jalan Surabaya awalnya hanya diisi segelintir pedagang yang menjual barang bekas rumah tangga seperti perkakas dapur, gerabah, radio dan banyak lagi. Beberapa tahun kemudian jumlah pedagang makin banyak dan mereka menyulap kios menjadi bangunan semi permanen seperti yang bisa kita lihat sekarang. Jenis barang yang ditawarkan pun makin beragam. Perangkat gramapon bisa kamu temui di sini, lengkap dengan vinyl/ piringan hitam dari para musisi jaman nenek moyang. Selain itu, kamu juga bisa temukan guci, telepon putar, safety box, jam dinding kuno, lampu kristal, barang-barang yang terbuat dari perunggu, aneka jenis koper, dan masih banyak lagi.

Seperti Pasar Triwindu di Solo, Pasar Antik Jalan Surabaya juga sering dikunjungi para wisatawan mancanegara dari Belanda, Jepang, Inggris, Austria dan Singapura. Mantan Presiden AS, Bill Clinton, bahkan menyempatkan diri berkunjung ke pasar ini dalam kunjungannya ke Indonesia di tahun 1994.

Penginapan MURAH di Jakarta >> disini


4. Pasar Klithikan, Yogyakarta

Istilah klithikan dalam bahasa Indonesia artinya kegiatan berburu barang, baik baru maupun bekas. Istilah ini kemudian digunakan sebagai nama pasar loak yang terletak di Jalan Mangkubumi, Jogjakarta. Pasar ini melakukan kegiatan jual beli di malam hari dan menawarkan aneka macam barang seperti yang ditawarkan pasar loak pada umumnya. Salah satu kontributor Pegipegi yang pernah tinggal di Yogyakarta bahkan pernah menemukan kaca spion dan tutup tangki bensin sepeda motor di pasar ini. Menurut pengakuannya, rekan-rekan kuliahnya juga biasa mencari peralatan pertukangan, onderdil motor dan mobil kuno, hingga mur baut dengan ukuran tertentu yang jarang ditemukan di toko.


Pemerintah setempat kemudian memindahkan Pasar Klithikan ke Jalan HOS Cokroaminoto Jogjakarta dengan alasan aktifitas jual beli terlalu ramai sehingga bisa menyebabkan kemacetan lalu lintas. Kepindahan Pasar Klitihikan ke lokasi baru cukup menguntungkan untuk para pembeli karena mereka bisa lebih mudah mencari barang yang mereka inginkan dalam satu lokasi, dan jumlah penjual juga makin banyak sehingga menambah lapangan pekerjaan.

Sumber : Pegipegi

Tiket pesawat online?? 



Tangkuban Perahu Lembang

Tangkuban Parahu adalah gunung berapi yang masih aktif, terletak 25-30 km di utara kota Bandung ke arah kota kecil Lembang. Perpaduan antara keindahan alam, dongeng populer, dan akses yang mudah dari Bandung menjadikan Tangkuban Parahu sebagai ikon wisata Jawa Barat. Selain itu, di tempat ini secara rutin digelar Festival Budaya dan Pariwisata Gunung Tangkuban Parahu.

Tangkuban Parahu terkenal dengan legenda rakyat masyarakat Jawa Barat yaitu Sangkuriang. Gunung ini berbentuk seperti perahu terbalik, dimana menurut legenda hal itu disebabkan karena Sangkuriang gagal memenuhi janji membuat perahu dan danaunya dalam satu malam sebagai syarat untuk menikahi Dayang Sumbi yang sejatinya adalah ibunya sendiri. Sangkuriang yang gagal karena kehabisan waktu kemudian menendang perahu tersebut hingga melayang jauh dan terbalik. Perahu terbalik tersebut tertelungkup, yang dalam bahasa Sunda disebut tangkub, sehingga sampai saat ini disebut Tangkuban Parahu.

Kawah besar yang terdapat di gunung ini merupakan pemandangan yang menakjubkan dan Anda dapat menjelajahi kawahnya sekitar 2 jam. Gas sulfur masih keluar dari kawah meskipun tidak aktif. Dari atas gunung ini, Kota Bandung hanyalah hamparan luas di kaki gunung. Kunjungi tempat ini sebagai bukti Anda telah ‘melihat’ Bandung.

Gunung Tangkuban Parahu (2084 m dpl) terbentuk dari aktivitas letusan berulang Gunung Api Sunda. Dalam catatan selama 2 abad terakhir, gunung ini meletus beberapa kali, yaitu: 1829, 1846, 1862, 1887, 1896, 1910, dan tahun 1929. Gunung Tangkuban Parahu memiliki tiga bentukan kawah utama, yaitu: Kawah Paguyangan Badak berumur 90.000-40.000 tahun. Aktivitas gunung kemudian berpindah dan membentuk Kawah Upas pada 40.000-10.000 tahun lalu. Terakhir, aktivitas berpindah ke Kawah Ratu, 10.000 tahun lalu sampai sekarang.


Kegiatan

Melihat-lihat pemandangan
Menikmati lingkungan alam yang indah dan asli
Mengambil gambar atau berfoto di tempa tlegendaris
Mendaki ke tepi kawah untuk melihat mata air panas dari dekat
Merebus telur di permukaan mata air panas

Tips

Tidak semua orang tahan dengan bau gas sulfur, tutupilah hidung Anda dengan sapu tangan.
Jangan ragu-ragu untuk menolak pedagang yang Anda tidak tertarik untuk membeli.
Disarankan untuk membawa jaket atau sweater untuk menghindari udara dingin. Payung pun dapat berguna untuk mengurangi sengatan matahari yang terik.
Usahakan datang sepagi mungkin karena pada saat siang kabutnya mulai menutupi pepohonan.

Kuliner

Restoran dan warung tersebar di sekitar Tangkuban Parahu. Namun jika Anda menginginkan suasana yang berbeda ada banyak tempat makan di sekitar Lembang yang menawarkan berbagai macam fasilitas dan jenis makanan.

Cari Penginapan MURAH di Lembang ???






Museum Geologi Bandung

Jalan-jalan ke Bandung, ada baiknya berkunjung ke tempat ini. Museum Geologi ini lokasinya hanya beberapa ratus meter dari Gedung Sate lho.

Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh ahli geologi dari Eropa. Setelah di Eropa terjadi revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, mereka sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Dengan jalan itu diharapkan perkembangan industri di Negeri Belanda dapat ditunjang. Maka dibentuklah Dienst van het Mijnwezen pada tahun 1850. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi dan sumberdaya mineral. Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral, fosil , laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan, sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung.

MASA PENJAJAHAN BELANDA
Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh ahli geologi dari Eropa. Setelah di Eropa terjadi revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, mereka sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Dengan jalan itu diharapkan perkembangan industri di Negeri Belanda dapat ditunjang. Maka dibentuklah Dienst van het Mijnwezen pada tahun 1850. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi dan sumberdaya mineral. Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral, fosil , laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan, sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum. Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg, dan dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja dan menghabiskan dana 400 Gulden, mulai pertengahan tahun 1928 sampai diresmikannya pada tanggal 16 Mei 1929. Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Konggres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929.

MASA PENDUDUKAN JEPANG
Sebagai akibat dari kekalahan pasukan Belanda dari pasukan Jepang pada perang dunia II, keberadaan Dienst van den Mijnbouw berakhir. Letjen. H. Ter Poorten (Panglima Tentara Sekutu di Hindia Belanda) atas nama Pemerintah Kolonial Belanda menyerahkan kekuasaan teritorial Indonesia kepada Letjen. H. Imamura (Panglima Tentara Jepang) pada tahun 1942. Penyerahan itu dilakukan di Kalijati, Subang. Dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia, Gedung Geologisch Laboratorium berpindah kepengurusannya dan diberi nama KOGYO ZIMUSHO dan setahun kemudian berganti nama CHISHITSU CHOSACHO.

Pada masa pendudukan Jepang, pasukan Jepang mendidik dan melatih para pemuda Indonesia untuk menjadi : PETA (Pembela Tanah Air) dan HEIHO (pasukan pembantu bala tentara Jepang pada Perang Dunia II). Laporan hasil kegiatan di masa itu tidak banyak yang ditemukan, karena banyak dokumen (termasuk laporan hasil penyelidikan) yang dibumihanguskan tatkala pasukan Jepang mengalami kekalahan di mana-mana pada awal tahun 1945.

MASA KEMERDEKAAN
Setelah Indonesia merdeka pada Tahun 1945, pengelolaan Museum Geologi berada dibawah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG/1945-1950). Pada tanggal 19 September 1945, pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat dan Inggris yang diboncengi oleh Netherlands India Civil Administration (NICA) tiba di Indonesia (mendarat di Tanjungpriuk, Jakarta). Di Bandung mereka berusaha menguasai kembali kantor PDTG yang sudah dikuasai oleh para pegawai Indonesia. Tekanan yang dilancarkan oleh pasukan Belanda memaksa kantor PDTG dipindahkan ke Jl. Braga No. 3 dan No. 8 Bandung pada tanggal 12 Desember 1945. Kepindahan kantor PDTG rupanya terdorong pula oleh gugurnya seorang pengemudi bernama Sakiman dalam rangka berjuang mempertahankan kantor PDTG . Pada waktu itu, Tentara Republik Indonesia Divisi III Siliwangi mendirikan Bagian Tambang, yang tenaganya diambil dari PDTG. Setelah kantor di Rembrandt Straat ditinggalkan oleh pegawai PDTG, pasukan Belanda pun di tempat itu mendirikan lagi kantor yang bernama Geologische Dienst. Di mana-mana terjadi pertempuran, maka sejak Desember 1945 sampai dengan Desember 1949, selama 4 tahun kantor PDTG terlunta-lunta pindah dari satu tempat ke tempat lain. Pemerintah Indonesia berusaha menyelamatkan dokumen-dokumen hasil penelitian geologi sehingga harus berpindah pindah tempat dari Bandung-Tasikmalaya-Solo-Magelang-Yogyakarta, baru pada Th 1950 kembali ke Bandung.

Dalam usaha menyelamatkan dokumen-dokumen tersebut, pada tanggal 7 mei 1949, Kepala PUSAT JAWATAN TAMBANG DAN GEOLOGI,  Arie Frederik Lasut, diculik dan dibunuh tentara belanda dan gugur sebagai kusuma bangsa di Desa Pakem Yogyakarta.

Sekembalinya ke Bandung, Museum Geologi mulai mendapat perhatian dari pemerintah RI, terbukti pada tahun 1960 Museum Geologi dikunjung oleh Presiden pertama RI , Ir. Soekarno. Pengelolaan Museum Geologi yang tadinya dibawah PUSAT DJAWATAN TAMBANG DAN GEOLOGI (PDTG) berganti nama menjadi: Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi (1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-1957), Djawatan Geologi (1957-1963), Direktorat Geologi (1963-1978), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (1978-2005), Pusat Survei Geologi mulai akhir tahun 2005 sampai sekarang.


Seiring dengan perkembangan jaman, pada tahun 1999 Museum Geologi mendapat bantuan dari Pemerintah Jepang senilai 754,5 juta yen untuk direnovasi. Setelah ditutup selama satu tahun, Museum Geologi dibuka kembali dan pembukaannya diresmikan pada tanggal 20 Agustus Tahun 2000 oleh Wakil Presiden RI waktu itu Ibu Megawati Soekarnoputri yang didampingi oleh Menteri Pertambangan dan Energi Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Dengan penataan yang baru ini peragaan Museum Geologi terbagi menjadi 3 ruangan yang meliputi Sejarah Kehidupan, Geologi Indonesia serta Geologi untuk Kehidupan Manusia. Sedangkan untuk dokumentasi koleksi tersedia sarana penyimpan koleksi yang lebih memadai diharapkankan pengelolaan contoh koleksi di Museum Geologi lebih mudah diakses oleh pengguna baik peneliti maupun grup industri. Mulai tahun 2002 Museum Geologi melalui Kepmen ESDM Nomor: 1725 tahun 2002 statusnya menjadi Unit Pelaksana Teknis Museum Geologi dilingkungan Balitbang ESDM. Mulai akhir 2005 Museum Geologi berada dibawah Badan Geologi bersama dengan terbentuknya Badan Geologi sebagai Unit Eselon I yang ada di lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Untuk menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik Museum Geologi dibentuk 2 seksi dan 1 sub bagian yaitu Seksi Peragaan dan Seksi Dokumentasi serta Subbag Tatausaha. Guna lebih mengoptimalkan perannya sebagai lembaga yang memasyarakatkan ilmu geologi, Museum Geologi juga mengadakan kegiatan antara lain seperti penyuluhan, pameran, seminar serta kegiatan survei lapangan untuk pengembangan peragaan dan dokumentasi koleksi.

Sumber : Bandung Tourism

Cari Penginapan MURAH di Bandung ???



Gedung Merdeka Museum Konfrensi Asia Afrika

Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18 sampai dengan 24 April 1955 mencapai kesuksesan besar, baik dalam mempersatukan sikap dan menyusun pedoman kerja sama di antara bangsa-bangsa Asia Afrika maupun dalam ikut serta membantu terciptanya ketertiban dan perdamaian dunia. Konferensi ini melahirkan Dasa Sila Bandung yang kemudian menjadi pedoman bangsa-bangsa terjajah di dunia dalam perjuangan memperoleh kemerdekaannya dan yang kemudian menjadi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia. Kesuksesan konferensi ini tidak hanya tampak pada masa itu, tetapi juga terlihat pada masa sesudahnya, sehingga jiwa dan semangat Konferensi Asia Afrika menjadi salah satu faktor penting yang menentukan jalannya sejarah dunia. Semua itu merupakan prestasi besar yang dicapai oleh bangsa-bangsa Asia Afrika.

Jiwa dan semangat Konferensi Bandung telah berhasil memperbesar volume kerja sama antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika, sehingga peranan dan pengaruh mereka dalam hubungan percaturan internasional meningkat dan disegani. Dalam rangka membina dan melestarikan hal tersebut, adalah penting dan tepat jika Konferensi Asia Afrika beserta peristiwa, masalah, dan pengaruh yang mengitarinya diabadikan dalam sebuah museum di tempat konferensi itu berlangsung, yaitu di Gedung Merdeka di Kota Bandung, kota yang dipandang sebagai ibu kota dan sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa Asia Afrika. Sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M., sering bertemu muka dan berdialog dengan para pemimpin negara dan bangsa Asia Afrika. Dalam kesempatan-kesempatan tersebut beliau sering mendapat pertanyaan dari mereka tentang Gedung Merdeka dan Kota Bandung tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika. Berulang kali pembicaraan tersebut diakhiri oleh pernyataan keinginan mereka untuk dapat mengunjungi Kota Bandung dan Gedung Merdeka.

Terilhami oleh hal tersebut serta kehendak untuk mengabadikan Konferensi Asia Afrika, maka lahirlah gagasan beliau untuk mendirikan Museum Konperensi Asia Afrika di Gedung Merdeka ini. Gagasan tersebut dilontarkan dalam forum rapat Panitia Peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika (1980) yang dihadiri antara lain Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Haryati Soebadio sebagai wakil dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata gagasan itu mendapat sambutan baik, termasuk dari Presiden RI Soeharto. Gagasan pendirian Museum Konperensi Asia Afrika diwujudkan oleh Joop Ave sebagai Ketua Harian Panitia Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika dan Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, bekerja sama dengan Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat, dan Universitas Padjadjaran. Perencanaan dan pelaksanaan teknisnya dikerjakan oleh PT. Decenta, Bandung. Museum Konperensi Asia Afrika diresmikan berdirinya oleh Presiden RI Soeharto pada tanggal 24 April 1980 sebagai puncak peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika. GEDUNG MERDEKA (Tempat Berlangsungnya Konferensi Asia Afrika). Tahun 1895 Gedung Merdeka yang terletak di Jalan Asia Afrika Nomor 65 Bandung, dibangun pertama kali pada tahun 1895 sebagai tempat berkumpulnya orang-orang Eropa, terutama Belanda, yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Banyak di antara mereka adalah pengusaha kebun teh dan opsir Belanda. Mereka mendirikan sebuah perkumpulan yang dikenal dengan nama Societeit Concordia pada tanggal 29 Juni 1879. Tujuannya adalah "de bevordering van gezellig verkeera". Sebagai tempat pertemuan, sebelumnya mereka biasa berkumpul, duduk-duduk sambil minum teh, di Warung De Vries.

Selanjutnya (1895) mereka pindah ke gedung di seberang Warung De Vries, yang diberi nama Concordia, dengan luas tanah 7.983 meter persegi. Pada tahun tersebut tempat ini hanya berupa bangunan sederhana, yang sebagian dindingnya terbuat dari papan dan penerangan halamannya memakai lentera minyak tanah. Bangunan ini berada di sudut jalan "Groote Postweg" (sekarang Jalan Asia Afrika) dan "Bragaweg" (sekarang Jalan Braga). Sisi sebelah kanannya berdekatan dengan kali Tjikapoendoeng (Cikapundung) yang sejuk karena banyak ditumbuhi pohon rindang. TAHUN 1921 Gedung Societeit Concordia dibangun kembali pada tahun 1921 dengan gaya arsitektur modern (Art Deco) yang fungsional dan lebih menonjolkan struktur oleh perancang C.P. Wolff Schoemaker. Gedung ini berubah wajah menjadi gedung pertemuan "super club" yang paling mewah, lengkap, eksklusif, dan modern di Nusantara. Lantainya terbuat dari marmer buatan Italia. Ruangan-ruangan tempat minum dan bersantai terbuat dari kayu cikenhout. Penerangannya menggunakan lampu-lampu hias kristal. Ruangan-ruangan dalam gedung cukup memadai untuk menampung kegiatan-kegiatan pertunjukan kesenian. Luas seluruh tanahnya 7.500 m2.

Tahun 1940 Societeit Concordia kembali mengalami perombakan pada tahun 1940 dengan gaya arsitektur International Style dengan bantuan arsitek A.F. Aalbers. Bangunan gaya arsitektur ini bercirikan dinding tembok plesteran dengan atap mendatar, tampak depan bangunan terdiri dari garis dan elemen horizontal, sedangkan bagian gedung bercorak kubistis. Pada masa pendudukan tentara Jepang (1942-1945), Gedung Societeit Concordia berganti nama menjadi Dai Toa Kaikan dan difungsikan sebagai pusat kebudayaan. Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, gedung tersebut dijadikan markas para pemuda Indonesia di Bandung guna menghadapi tentara Jepang yang tidak bersedia menyerahkan kekuasaannya.

Sekitar tahun 1949, sejak pemerintahan pendudukan, Gedung Societeit Concordia diperbaiki dan difungsikan kembali sebagai Societeit Concordia, tempat pertemuan orang-orang Eropa (termasuk juga beberapa orang Indonesia). Di gedung ini kembali seperti biasa diselenggarakan lagi pertunjukan kesenian, pesta, restoran, dan pertemuan umum lainnya. TAHUN 1955 Sehubungan dengan keputusan pemerintah Indonesia (1954) yang menetapkan Bandung sebagai tempat Konferensi Asia Afrika, maka Gedung Societeit Concordia terpilih sebagai tempat berlangsungnya konferensi. Hal ini disebabkan gedung tersebut adalah gedung tempat pertemuan umum yang paling besar dan paling megah di Bandung. Selain itu lokasinya berada di tengah-tengah kota dan berdekatan dengan hotel terbaik, yaitu Hotel Savoy Homann dan Preanger.

Sejak awal tahun 1955, Gedung Societeit Concordia mulai dipugar untuk disesuaikan kegunaannya sebagai tempat penyelenggaraan konferensi bertaraf internasional. Pemugaran gedung ditangani oleh Jawatan Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Barat yang dipimpin oleh Ir. R. Srigati Santoso. Menjelang konferensi (7 April 1955), gedung ini diganti namanya oleh Presiden Soekarno menjadi Gedung Merdeka. Untuk informasi lebih lajut, silakan kunjungi website resmi Museum Konferensi Asia Afrika.


Sumber : Bandung Tourism

Cari Penginapan MURAH di Bandung ??



Gedung Sate

Gedung Sate adalah suatu karya arsitektur besar, yang berhasil memadukan langgam timur dan barat secara harmonis. Gedung Sate telah menjadi salah satu tujuan obyek wisata di kota Bandung. Khusus wisatawan manca negara banyak dari mereka yang sengaja berkunjung karena memiliki keterkaitan emosi maupun history pada Gedung ini. Keterkaitan emosi dan history ini mungkin akan terasa lebih lengkap bila menaiki anak tangga satu per satu yang tersedia menuju menara Gedung Sate.

Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m². Di puncaknya terdapat "tusuk sate" dengan 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden - jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate.

Gedung Sate sejak tahun 1980 dikenal dengan sebutan Kantor Gubernur karena sebagai pusat kegiatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Ruang kerja Gubernur terdapat di lantai II bersama dengan ruang kerja Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah, Para Assisten dan Biro.

Di bagian timur dan barat terdapat dua ruang besar yang akan mengingatkan pada ruang dansa (ball room) yang sering terdapat pada bangunan masyarakat Eropa. Ruangan ini lebih sering dikenal dengan sebutan aula barat dan aula timur, sering digunakan kegiatan resmi. Di sekeliling kedua aula ini terdapat ruangan-ruangan yang ditempati beberapa Biro dengan Stafnya.  Dapat dikatakan Gedung Sate adalah "Gedung Putih"nya kota Bandung. Paling atas terdapat lantai yang disebut Menara Gedung Sate, lantai ini tidak dapat dilihat dari bawah, untuk menuju ke lantai teratas menggunakan Lift atau dengan menaiki tangga kayu.

Keindahan Gedung Sate dilengkapi dengan taman disekelilingnya yang terpelihara dengan baik, tidak heran bila taman ini diminati oleh masyarakat kota Bandung dan para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Keindahan taman ini sering dijadikan lokasi kegiatan yang bernuansakan kekeluargaan, lokasi shooting video klip musik baik artis lokal maupun artis nasional, lokasi foto keluarga atau foto diri bahkan foto pasangan pengantin. Khusus di hari minggu lingkungan halaman Gedung Sate dijadikan pilihan tempat sebagian besar masyarakat untuk bersantai, sekedar duduk-duduk menikmati udara segar kota Bandung atau berolahraga ringan.

Sumber : Wikipedia

Cari Penginapan MURAH di Bandung ???